Senin, April 15, 2024
BerandaJogjakartaPenghuni Kos dan Asrama di Kota Yogyakarta Harus Ikut Mengolah Sampah Organik

Penghuni Kos dan Asrama di Kota Yogyakarta Harus Ikut Mengolah Sampah Organik

JOGJAEKSPRES.COM – Permasalahan limbah di Kota Yogyakarta perlahan mulai menemukan titik temu, seiring deretan terobosan yang digulirkan Pemkot setempat.

Terbaru, gerakan Mbah Dirjo (Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja) menjadi gebrakan untuk upaya pengolahan limbah jenis organik.

Penjabat (Pj) Walikota Yogyakarta, Singgih Raharjo, mengatakan lewat gerakan Mbah Dirjo, setiap warga masyarakat wajib mengolah limbah organik sejak dari level rumah tangga.

Baca Juga: Pemkot Yogyakarta Buka Kembali Sebagian Depo Sampah di Wilayah

Dengan begitu, sampah organik yang diproduksi penduduk tidak perlu dialokasikan menuju tempat pembuangan akhir (TPA).

Sebagai informasi, TPA Piyungan sejauh ini masih dibuka secara terbatas, khusus untuk sampah dari Kota Yogyakarta, dengan volume pembuangan 100 ton per hari.

Oleh sebab itu, eksekutif masih harus memutar otak, mengingat sampah yang tersisa, serta tidak dapat terbuang ke TPA pun masih cukup tinggi.

Baca Juga: Forpi Kota Yogyakarta Temukan Sampah Menggunung di Jalan Munggur Kota Yogyakarta

Benar saja, gerakan zero sampah anorganik yang dilaksanakan sejak 1 Januari 2023 masih menyisakan sekira 200 ton limbah per hari yang belum terkelola.

Alhasil, dengan kuota TPA Piyungan yang hanya 100 ton per hari, sekitar 100 ton sampah pun berpotensi menumpuk jika tak diambil upaya khusus.

“Jadi, Mbah Dirjo ini gerakan warga yang kita dukung bersama, untuk menyelesaikan permasalahan limbah organik,” cetus Singgih, Minggu (30/7/2023).

Baca Juga: Sampah Domestik Rumah Sakit harus Diprioritaskan

Metodenya pun diberikan keleluasaan, serta tidak sebatas biopori saja, lantaran masih banyak cara-cara lain, seperti ember tumpuk, atau losida (lodong sisa dapur).

Dengan peralatan sederhana, murah, serta sangat mudah diakses, seluruh warga yang berdomisili di Kota Yogyakarta diharapkan bisa ikut berkontribusi.

“Termasuk anak-anak kos, atau asrama, semua bisa melakukan dengan model biopori standar. Atau, bisa juga berkolaborasi dengan Pak RT atau Pak RW, silakan, nanti pasti dibantu itu,” ucapnya.

Baca Juga: Forpi Kota Yogyakarta Minta Pemangku Kebijakan Duduk Bersama Cari Solusi Atasi Sampah

“Lagipula kita sudah punya banyak bank sampah berbasis RW, mereka yang akan menggiatkan Mbah Dirjo. Harapan kami, limbah organik juga bisa selesai di tingkat masyarakat,” lanjut Pj Walikota.

Menurutnya, sebagai bagian dari warga masyarakat, para pelajar atau mahasiswa yang sehari-hari tinggal di kos atau asrama di Kota Yogyakarta pun tidak luput dari kewajiban pengolahan limbah.

Terlebih, metode yang dijabarkan Pemkot Yogyakarta pun cenderung sederhana, mudah, murah, serta tidak memberatkan.

Baca Juga: Masalah Sampah Sebenarnya Sederhana jangan Dibuat Rumit

Dengan jumlah indekos dan asrama mahasiswa yang cukup melimpah di Kota Yogyakarta, permasalahan baru berpotensi muncul ketika alokasi sampah dari sana hanya dibiarkan saja tanpa pengelolaan.

“Kita harus guyub, bersama-sama menjadikan limbah organik selesai. Seluruhnya, ya, masyarakat kota, baik rumah tangga, anak-anak kos dan asrama, mereka harus bergerak, ikut peduli,” urainya. (*)

Berita terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER

KOMENTAR TERBARU