Senin, April 15, 2024
BerandaNasionalMbah Rono: Kita Harus Menjadi Tamu yang Hormat pada Alam

Mbah Rono: Kita Harus Menjadi Tamu yang Hormat pada Alam

JOGJAEKSPRES.COM – Ahli geologi dan pakar kebencanaan Ir. Surono (Mbah Rono) mengingatkan pentingnya kesadaran terhadap fenomena alam, yang kemudian dianggap bencana karena menimbulkan korban jiwa.

Mbah Rono menjelaskan, pertanyaan besar yang jawabannya harus diingat bersama adalah, kenapa bencana alam seperti gempa bumi, longsor, gunung meletus, termasuk tsunami menimbulkan korban jiwa?

Jawabannya adalah karena infrastruktur bangunannya serta permukimannya yang tidak tepat. Maka tak heran, ketika terjadi gempa di Cianjur yang tidak begitu besar, namun menimbulkan banyak korban jiwa.

“Gempa enggak membunuh. Yang salah adalah bangunan yang ditempati. Karena kita salah tempat dan salah bangunan. Sesimpel itu sebetulnya,” jelas Mbah Rono.

Mbah Rono menjadi pembicara dalam Seminar Nasional PDI Perjuangan dengan topik: Mitigasi Bahaya Secara Cepat Sebagai Upaya Antisipasi Dini Untuk Memahami Potensi Bahaya Gempa Bumi dan Resikonya. Seminar digelar di Sekolah Partai PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta, Kamis, 2 Maret 2023.

Menurut Mbah Rono, hampir seluruh daerah di Indonesia rawan bencana. Baik gempa bumi, longsor, letusan gunung dan sebagainya. Dan setiap ada bencana pasti banyak korban, karena di lokasi bencana itu penduduknya pasti banyak.

Lantas kenapa di daerah rawan bemacana banyak penduduknya? Tak lain karena daerah-daerah itu sangat nyaman dan enak untuk ditempati. Alamnya indah, subur, airnya banyak. Menjadi lokasi pariwisata, pertanian, nelayan.

“Jadi sebenarnya daerah rawan bencana di Indoensia sangat ekonomis dan di sisi lain sangat rawan bencana. Kita kaya mineral, batubara, minyak gas bumi, serta pertanian, perkebunan dan perikanan. Tapi di sisi lain rawan gunung meletus, gempa bumi, longsor, dan tsunami,” jelas Mbah Rono.

Menurut Mbah Rono, masyarakat yang menjadi korban kadang tak punya pilihan, karena mereka dengan keterbatasannya, mau tak mau terpaksa menempati lokasi yang rawan benacana.

“Maka persoalan itulah yang harus dientaskan dan dibantu. Subyek bencana adalah masyarakat. Mari kita lihat dan rasakan wajah kecemasan mereka, dan mari ajarkan mereka untuk mengatasi ancaman bencana itu,” imbuhnya.

Kata Mbah Rono, kita manusia adalah sebagai tamu di bumi, karena alam seperti gunung, laut, hutan semua itu sudah ada sebelum kita lahir ke bumi.

Karena kita datang belakangan, Mbah Rono mengingatkan agar jika ada di daerah yang rawan bencana maka buatlah bangunan yang tahan gempa.

Seperti nenek moyang kita dulu, memakai rumah panggung dari kayu yang sebenarnya aman dari runtuhan akibat gempa. Seperti di Jawa Barat, Nias, Karo, dan hampir semua daerah di Indonesia.

“Itu karena nenek moyang kita belajar dari alam. Sama seperti Isac Newton melihat apel jatuh, lalu menemukan teori gravitasi. Dan iptek hanya menyeimbangkan antara kemauan alam dan kemauan manusia agar tidak saling berbenturan,” imbuhnya.

Pada bagian akhir, Mbah Rono sangat mengapresiasi Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang sangat _concern_ terhadap riset kebencanaan.

Sebab selama ini, kata Mbah Rono, biaya riset tidak seimbang dengan biaya tanggap darurat dan kerugian bencana.

“Mitigasi bencana tanpa riset itu: Gagal sudah pasti, berhasil kebetulan,” ungkapnya.

Sebagai gambaran data, Mbah Rono memaparkan catatan BNPB, Gempa Bumi NTB 2018 menghabiskan biaya tanggap darurat dan kerugian mencapai Rp18,25 triliun. Gempa Bumi Sulteng 2018 (Rp 23,16 triliun), Tsunami Selat Sunda 2018 (Rp 708,94 miliar), Banjir Sulsel 2019 (Rp 926,96 miliar), Banjir bandang Sentani 2019 (Rp668,4 miliar).

Ia juga menjelaskan bahwa riset itu penting namun lebih penting lagi bila riset kebencanaan dapat bermanfaat dalam pengurangan risiko bencana.

“Riset masih belum dianggap investasi jangka panjang dalam penataan ruang berbasis hidup harmoni dengan alam,” jelas Mbah Rono. (arf/rls)

Berita terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER

KOMENTAR TERBARU