Selasa, April 16, 2024
BerandaNasionalAncaman Gempa Besar Megathrust di Selatan Pulau Jawa, Ini Penjelasannya

Ancaman Gempa Besar Megathrust di Selatan Pulau Jawa, Ini Penjelasannya

JOGJAEKSPRES.COM – Para ahli berulang kali mengingatkan soal potensi gelombang tsunami dahsyat, ada yang menyebut 10 meter, ada pula yang memprediksi hingga 34 meter, di Pantai Selatan Jawa yang bersumber dari megathrust.

“Sesar Opak merupakan sumber gempa yang jalurnya terletak di daratan ini memang aktif dan belum berhenti aktvitasnya. Sedangkan di Samudera Hindia selatan Yogyakarta juga terdapat sumber gempa subduksi lempeng atau megathrust, yang juga masih sangat aktif,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati, belum lama ini.

Lalu, apa sebetulnya megathrust yang disebut-sebut bisa menghasilkan gempa besar dan memicu gelombang tsunami?

Baca Juga: Sesar Opak di DIY Masih Aktif, Picu Gempa Megathrust M 8,7 dan Tsunami 10 Meter

Megathrust merupakan daerah pertemuan antar lempeng tektonik Bumi di lokasi zona subduksi. Lempeng tektonik Bumi dapat mencapai ribuan kilometer dan menjadi dasar benua dan samudera. Pelat-pelat ini bertabrakan, meluncur, dan bergerak menjauh satu sama lain.

Lempeng-lempeng itu terkadang bertabrakan satu sama lain atau satu lempeng didorong ke bawah lempeng lain di zona subduksi. Dengan kata lain, zona subduksi adalah zona pertemuan lempeng-lempeng tersebut.

Apabila sejumlah lempeng tektonik bertemu, maka gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, dan tanah longsor yang kuat dapat terjadi.

Baca Juga: TBG Rusak Akibat Gempa Bantul, Sultan Minta Disterilkan

Merujuk Badan Survey Geologi Amerika Serikat (USGS), saat lempeng tektonik bertemu, satu lempeng meluncur di bawah lempeng lain, atau melakukan subduksi, turun ke mantel Bumi dengan kecepatan 2-8 sentimeter per tahun.

Sementara itu, gempa megathrust adalah gempa yang sangat besar dan terjadi di zona subduksi.

Indonesia sendiri dikelilingi zona megathrust, dan dua di antaranya berada di selatan Jawa, yakni di bagian barat dan timur. Kedua megathrust tersebut menyimpan potensi gempa yang sangat besar hingga Magnitudo 9,1.

Baca Juga: Gempa Yogya 2006: Menggurat Kebangkitan dan Ketahanan

Gempa megathrust merupakan fenomena yang berulang dalam periode waktu tertentu.

Melansir situs Natural Resources Canada, pengulangan bervariasi dari zona subduksi ke zona subduksi. Misalnya, di zona subduksi Cascadia di Amerika Utara, 13 peristiwa megathrust telah diidentifikasi dalam 6.000 tahun terakhir, rata-rata setiap 500 hingga 600 tahun.

Namun, itu tidak terjadi secara teratur. Beberapa di antaranya terjadi 200 tahun dan beberapa lainnya sejauh 800 tahun.

Baca Juga: Usung Tema Perbandingan Gempa Bumi Kobe dengan Palu, Dua Mahasiswa UAJY Raih Best Presentation Award

Untuk megathrust selatan Jawa, Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari memprediksi pengulangan dapat terjadi setiap 400 tahun.

Prediksi itu dihasilkan lewat penelitian dengan menggunakan metode GPS bersama sejumlah ahli kegempaan dari berbagai lembaga. Menurut catatan, gempa megathrust terjadi terakhir kali di selatan Jawa pada tahun 1818. (*)

Berita terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER

KOMENTAR TERBARU