Senin, September 1, 2025
BerandaJogjakartaKasus Malaria Impor Melonjak di Kota Yogyakarta

Kasus Malaria Impor Melonjak di Kota Yogyakarta

JOGJAEKSPRES.COM – Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menyebut adanya lonjakan kasus malaria yang terjadi sejak Januari hingga Agustus 2025 tercatat sekitar 39 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Lana Unwanah mengatakan, kesemua laporan kasus malaria yang terjadi di wilayahnya merupakan kasus impor.

“Semuanya adalah kasus impor, artinya penularan bukan terjadi di Kota Yogyakarta,” katanya, Kamis, 14 Agustus 2025.

BACA JUGA: Dinkes Kota Yogyakarta: Waspadai Penyakit ISPA, Diare hingga Leptospirosis saat Pancaroba

Lana menjelaskan, kasus Malaria terbagi atas Malaria indigenous yakni jika penularan terjadi di wilayah setempat dan tidak ada bukti langsung berhubungan dengan kasus impor. Ada juga kasus Malaria impor yaitu malaria yang sumber penularannya berasal dari luar daerah.

Diakui Lana, Kota Yogyakarta sudah mendapat sertifikasi bebas Malaria sejak 2014. Sedangkan dari penyelidikan, temuan kasus yang beredar saat ini, diketahui merupakan kasus impor atau dibawa penderita setelah bepergian, bekerja, atau beraktivitas dari luar kota.

“Jadi kasus Malaria impor di Yogya itu artinya ada penduduk Kota Yogyakarta yang tertular saat mereka berada di luar kota lalu pulang dan terdeteksi di sini,” katanya.

BACA JUGA: Masuki Musim Pancaroba, Dinkes Bantul Minta Warga Waspadai 2 Penyakit Ini

Lana mencontohkan, anggota TNI/Polri yang pulang penugasan dan tertular saat penugasan di luar Jawa. Ada juga kasus Malaria dari penduduk luar Yogyakarta dan tertular di daerahnya masing-masing, tapi saat ini berdomisili di Kota Yogyakarta. Bisa juga mahasiswa dari luar Jawa yang datang berkuliah di Yogyakarta.

Dia pun mengimbau masyarakat agar waspada. Sebab, walaupun Kota Yogyakarta bukan daerah endemis namun wilayahnya menjadi area urban dan dinamika mobilitas penduduk dari luar kota dengan status endemis malaria cukup tinggi.

Lana menambahkan, malaria masih ada dan endemis di beberapa daerah terutama di wilayah timur Indonesia seperti Papua, Papua Barat, NTT dan Maluku. Adapun gejala-gejala penyakit malaria antara lain demam, pusing, berkeringat, menggigil, lesu, mual, muntah, sakit perut, dan diare.

BACA JUGA: Cegah Penyakit Antraks Meluas, Pemda DIY Lakukan Isolasi, Vaksinasi dan Edukasi

“Jika mengalami gejala-gejala itu, terutama setelah bepergian dari daerah endemis malaria segera memeriksakan ke puskesmas atau rumah sakit. Malaria bisa sembuh jika cepat diobati,” katanya.

Untuk mencegah kasus itu kian menyebar di Yogyakarta, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengimbau warga intens menguras, menutup dan mengubur atau memanfatkan kembali barang bekas yang berpotensi jadi tempat nyamuk berkembang biak. (*)

Dapatkan berita menarik lainnya dengan mengikuti saluran kami

Berita terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER

KOMENTAR TERBARU