Rabu, Mei 29, 2024
BerandaSleman6 Warga Sleman Meninggal Dunia Akibat Leptospirosis

6 Warga Sleman Meninggal Dunia Akibat Leptospirosis

JOGJAEKSPRES.COM – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kesehatan setempat terus mewaspadai peningkatan kasus leptospirosis di wilayahnya.

Sebab, sampai September 2023, tercatat ada enam warga yang meninggal karena leptospirosis.

“Data di Dinas Kesehatan Sleman mencatat hingga September 2023 ada 58 kasus leptospirosis. Dari jumlah tersebut ada enam warga meninggal dunia karena penyakit yang biasa mengancam para petani,” ujar Sub Koordinator Kelompok Substansi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman, Seruni Angreni Susila, Minggu (19/11/2023).

Adapun dari enam warga yang meninggal dunia tersebut, disampaikan Seruni di antaranya terjadi di Kapanewon Moyudan, Minggir, Sleman dan Ngemplak.

Lebih lanjut Seruni mengatakan, meski saat ini angka kasus leptospirosis di wilayahnya mengalami penurunan pada beberapa bulan terakhir, pihaknya tetap mewaspadai adanya peningkatan kasus.

Baca Juga: Masuki Musim Pancaroba, Dinkes Bantul Minta Warga Waspadai 2 Penyakit Ini

Apalagi, leptospirosis biasanya baru diketahui setelah penyitas melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan terdekat, seperti puskesmas dan rumah sakit.

“Memang tidak setinggi dibandingkan pada pertengahan tahun. Namun, kami tetap mewaspadai kemungkinan peningkatan kasus. Apalagi risiko kematian dari penyakit ini sangat tinggi,” katanya.

Seruni kembali menjabarkan, berdasarkan data, beberapa kapanewon yang rawan terhadap penyebaran kasus leptospirosis. Kawasan barat, ada Kapanewon Moyudan, Gamping dan Minggir, sedangkan di kawasan timur ada Kapanewon Prambanan, Kalasan dan Ngemplak. Sebab, di kawasan tersebut, terdapat lahan pertanian, dekat dengan aliran sungai, dan merupakan vektor penyebaran tikus.

“Sementara penyakit ini kan masuk masuk ke dalam tubuh manusia, lewat bekas luka dan genangan air yang terkontaminasi bakteri leptospira,” katanya.

“Untuk itu kami minta petani dan warga untuk alat pelindung diri (APD) berupa boot atau sarung tangan karet ketika berkebun, ke sawah maupun ke kolam dan mencuci tangan dan kaksi dengan sabun setelah terkena kotoran,” katanya.

Baca Juga: Kualitas Udara Kota Yogyakarta Memburuk, Dinkes Imbau Kurangi Bakar Sampah hingga Penggunaan Masker

Selain itu, diakui Seruni, Dinkes telah bekerja sama dengan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman untuk mencegah penyebaran leptospirosis. DP3 Sleman mengintensifkan pemberantasan vektor tikus dengan mengoptimalkan keberadaan burung hantu.

“Karena keberadaan burung hantu ini efektif untuk mengurangi dan mencegah hama tikus,” ucap Seruni. (*)

Berita terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER

KOMENTAR TERBARU